Jumat, 19 Maret 2010

Pantai Lhoknga

Pantai Lhoknga adalah salah satu aset wisata yang paling banyak dikunjungi masyarakat Banda Aceh dan sekitarnya pada hari minggu dan hari libur lainnya. Pantai ini terletak di pinggir Jalan Raya Banda Aceh-Meulaboh tepat di depan Pabrik PT. Semen Andalas Indonesia (SAI) Kecamatan Lhoknga Kabupaten Aceh Besar. Pantai ini berjarak lebih kurang 22 km dari Kota Banda Aceh. Untuk menjangkau wilayah ini bisa menggunakan kendaraan pribadi lebih kurang 25 menit perjalanan atau 40 menit perjalanan menggunakan kendaraan umum (labi-labi). Dibelakang pabrik terdapat gunung kapur yang batuan kapurnya digunakan langsung untuk bahan baku semen. Pada akhir tahun 2004 pantai ini mengalami kerusakan parah karena diterjang gelombang tsunami, namun sekarang sudah kembali tertata dengan baik dan kembali menawarkan pesonanya.
Salah satu pesona pantai Lhoknga adalah pasir putihnya, dimana kita dapat menemukan berbagai jenis keong dan karang putih bertebaran. Ada banyak pilihan rekreasi yang bisa dilakukan di pantai ini seperti berenang, berjemur, berselancar, memancing, snorkeling, atau sekedar bersantai di pondok dan café pinggiran laut sambil menikmati ikan bakar. Bagi pengunjung yang ingin berekreasi di pantai ini perlu berhati-hati jika ingin berenang karena disini terdapat zona terlarang dimana pusaran ombaknya sangat berbahaya. Tidak perlu khawatir anda bisa bertanya pada pengawas pantai ataupun orang-orang yang berjualan disekitar pantai tentang wilayah bahaya tersebut. Pada sore hari ketika pantai mulai sepi suasana berubah hening dengan keindahan sunset yang memesona.
Pemerintah setempat berharap kepada seluruh pengunjung agar dalam setiap aktivitasnya dipantai ini tetap dalam keadaan menutup aurat. (aka_aceh)
Readmore »

Selasa, 26 Januari 2010

Letak Geografis Aceh



Provinsi Aceh terletak di bagian barat Indonesia tepatnya di bagian ujung Pulau Sumatera. Secara geografis Aceh terletak antara 2 - 6 derjat lintang utara dan 95 – 98 derjat lintang selatan dengan ketinggian rata-rata 125 meter diatas permukaan laut. Batas-batas wilayah Aceh, sebelah utara dan timur berbatasan dengan Selat Malaka, sebelah selatan dengan Provinsi Sumatera Utara dan sebelah barat dengan Samudra Hindia. Satu-satunya hubungan darat hanyalah dengan Provinsi Sumatera Utara sehingga memiliki ketergantungan yang cukup tinggi dengan provinsi tersebut. Luas wilayah Aceh sebesar 57.365,57 Km2 dengan kata lain 12,26 % Pulau Sumatera. Hutan adalah bagian terluas dari Aceh dimana luasnya mencapai 39.615,76 km2.
Readmore »

Minggu, 26 Juli 2009

Pengalamanku Mengenal Dunia Internet (ulang tahun ke-11 detikcom)

Pertama sekali mengenal internet saya seperti melihat dunia baru. Saat itu saya diajak oleh seorang teman, namanya Bobi. Sampai disana dia hanya membuka sebuah situs untuk melihat email selebihnya chatting. Menyaksikan itu semua membuat saya sangat kagum dan merasa jadi orang yang paling tertinggal.

Empat bulan setelah itu saya diterima disebuah universitas negeri di Aceh namanya Unsyiah, tepatnya di Jurusan Teknik Kimia. Hari pertama kuliah kami diberi tugas mencari seratus orang penemu bidang kimia, lengkap dengan keterangan perjalanan hidup mereka. Selasai jam kuliah saya berkenalan dengan seorang teman bernama Saisa, dia mengajak saya mencari bahan pendukung untuk tugas tersebut di internet. Sebenarnya saya sempat ragu berhubung sama sekali tidak tahu caranya, tetapi Saisa memaksa dan bersedia membantu saya untuk belajar menggunakan internet.
Sesampainya di internet Saisa benar-benar bingung. Dia sama sekali tidak membayangkan kalau sebenarnya selain tidak mengerti internet saya juga belum pernah menggunakan komputer. Kesabaran Saisa berbuah manis, akhirnya setelah satu jam berusaha saya berhasil mengendalikan mouse yang awalnya lari-lari tidak menentu arah tujuan. Setelah terbiasa dengan mouse, Saisa mengajarkan cara membuka situs. Situs pertama dan satu-satunya yang saya buka saat itu adalah www.plasa.com berhubung saisa juga baru beberapa kali ke internet dan belum banyak situs yang dia tahu, tujuannya untuk membuat sebuah email. Setelah itu saisa mengajarkan saya cara chatting di mIRC. Itu adalah kali pertama saya online di internet dengan nama herries dan saya bertualang sampai ke medan, Jakarta dan bandung. Setelah dua jam berkutat dengan internet kami pulang tampa membawa apa yang kami cari. Hari itu hanya diisi dengan proses belajar dan penyesuaian diri.
Setelah hari yang bersejarah itu, setiap hari saya meluangkan waktu satu jam ke internet. Tujuannya mengasah kemampuan dan mencari bahan-bahan yang dibutuhkan untuk kuliah. Satu tahun setelah itu saya diterima untuk kerja paruh waktu disebuah warung internet di dekat kampus. Saat ini banyak hal yang telah saya temui di dunia internet, berkenalan dengan situs-situs besar seperti google, yahoo, dan detik adalah hal yang sangat berharga dalam mewarnai hidup.

Readmore »

Minggu, 17 Mei 2009

Mesjid Raya Baiturrahman Banda Aceh


Ketika anda mengunjungi bumi Serambi Mekkah anda akan menemukan sebuah mesjid yang sangat indah. Masyarakat Aceh menyebutnya Mesjid Raya Baiturrahman. Mesjid ini berada di pusat kota Banda Aceh.


Mesjid Raya Baiturrahman merupakan salah satu mesjid yang memiliki lembaran sejarah tersendiri. Mesjid Raya Baiturrahman kini merupakan Masjid Negara yang berada di Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Mesjid ini dibangun pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Pada saat itu, Aceh merupakan pusat pendidikan ilmu agama di Nusantara. Banyak pelajar dari berbagai penjuru Nusantara, bahkan dari Arab, Turki, India, dan Persia yang datang ke Aceh untuk menuntut ilmu agama.


Mesjid Raya Baiturrahman adalah salah satu simbol keagungan, keberanian dan nasionalisme rakyat Aceh. Masjid ini merupakan saksi bisu sejarah perjuangan melawan Belanda. Ketika berperang dengan Belanda rakyat Aceh juga menggunakannya sebagai markas pertahanan. Akhirnya, saat terjadi Perang Aceh tahun 1873, masjid ini dibakar oleh tentara Belanda. Pada saat itu, Mayjen Khohler tewas tertembak di dahi oleh pasukan Aceh di pekarangan Masjid Raya. Tempat tertembaknya sang mayjen tersebut kini diabadikan dengan sebuah monumen kecil dibawah pohon ketapang.


Enam tahun kemudian, untuk meredam kemarahan rakyat Aceh, pihak Belanda melalui Gubernur Jenderal Van Lansnerge membangun kembali Masjid Raya ini dengan peletakan batu pertamanya pada tahun 1879 dan diselesaikan pada tanggal 27 Desember 1883 dengan kubah tunggal, selanjutnya Mesjid ini diperluas menjadi 3 kubah pada tahun 1935. Terakhir diperluas lagi menjadi 5 kubah (1959-1968). Masjid Raya telah mengalami lima kali renovasi dan perluasan (1879-1993).


Readmore »